April 11, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Kamis, 11 April 2019

Kamis, 11 April 2019
HARI KAMIS PEKAN V PRAPASKAH
Kej.17:3-9
Mzm.105:4-5,6-7,8-9
Yoh.8:51-59

KACA MATA IMAN

Saat di TK dan SD St.Ursula aku bersyukur boleh mengenal Suster [d/h.Mere] Lawrence kepala sekolah yang baik hati, ramah juga cantik dan Pastor Lammers,SJ pastor paroki Katedral yang juga sangat baik. Diluar kelas, beliau masih mau bermain dengan anak-anak didiknya. Saat itu aku belum dibaptis, tetapi setiap kali berada bersama mereka aku merasakan pancaran kasih dan kebaikan hati seperti tokoh Yesus yang sering aku dengar dari cerita-cerita agama Katolik

Aku mulai tertarik untuk belajar agama Katolik, diajar oleh Pastor Lammers,SJ. Aku semakin mengenal siapaYesus. Setiap kali aku bertemu Pastor Lammers, serasa aku melihat Yesus, berada dekat Yesus. Setelah 2 tahun belajar, aku di baptis. Pastor Lammers sering mengunjungi umat Katolik,bersepeda dari rumah ke rumah. Hari Minggu setelah misa, menemani anak-anak bermain.Hampir setiap minggu aku dengan beberapa teman sekolah dan misdinar ditemaninya menaiki menara gereja Katedral. Kadang kami diajak pergi jalan-jalan. Dari tindakannya, dari perhatiannya kepada umat, kepada orang miskin, bagiku pastor sepertiYesus.Lewat kaca mata iman seorang anak, aku melihat sosok Yesus hadir dalam dirinya.

Peristiwa yang terjadi dalam Injil, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi: “Aku berkata kepadamu: Sungguh, barang siapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Apa tanggapan orang Yahudi? Mereka membandingkan Yesus dengan Abraham serta para Nabi. Mereka menilai Yesus karena usianya yang muda, melihat Abraham saja belum pernah, koq bisa-bisanya bicara demikian. Mereka melecehkan Yesus karena mereka hanya melihat Yesus lewat pandangan mata jasmani dan akal budi.

Disitulah letak kesalah-pahaman diantara Yesus dan orang Yahudi pada zaman itu. Yesus berbicara tentang siapa diri-Nya, yang adalah Putera Allah. Sedangkan orang Yahudi melihat Yesus sebagai orang muda, sama-sama manusia biasa seperti  mereka yang kelak akan mati.

Lewat pengajaran Yesus yang kita baca dalam Injil, kita diajak untuk memahami tidak hanya menggunakan pikiran, akal-budi saja tetapi dengan iman kita percaya ada keselamatan hidup kekal bagi orang yang mendengar dan melaksanakan sabda-Nya. Iman yang harus menjadi sikap dasar dalam menanggapi pewartaan sabda dan pengajaran-Nya.

Refleksi:
Bagaimana dengan iman umat zaman now? Siapakah Yesus bagi kita?
Mampukah kita melihat kehadiran Yesus dalam diri para Imam?

 

Alice Budiana / Tim KKS