April 18, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Kamis, 18 April 2019

Kamis, 18 April 2019
KAMIS PUTIH; PERINGATAN PERJAMUAN TUHAN

Kitab Keluaran 12:1-8.11-14;
Korintus 11-23-26; Yohanes 13:1-15.

Ketika menghadiri Misa Krisma di Gereja Katedral KAJaku merasa  bangga menjadi orang Katolik. Rasa haru dan bangga kurasakan pula ketika menyaksikan imam-imam yang berbaris rapi  memasuki Gereja untuk mengikuti Perayaan Ekarisi dan memperbaharui Janji Imamat mereka  setahun sekali.   Mereka ini adalah ‘Hamba Tuhan’ yang rendah hati dan murah hati, ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’,  yang berjuang menyangkal diri untuk melayani umat-umat dimana mereka ditugaskan demi Kemuliaan Tuhan.  Misa Krisma adalah Misa setahun sekali yang diselenggarakan oleh Bapak Uskup bersama para Imam dalam wilayah Keuskupannya, yang mewujudkan persatuan para Imam dengan Uskup mereka.   Dalam Misa ini Bapak Uskup memberkati 3 jenis Minyak Suci,  Minyak Katekumen, Minyak Pengurapan Orang Sakit dan Minyak Krisma, yang sudah menjadi tradisi sejak Gereja Perdana (Para Rasul). Minyak-minyak ini akan diberikan kepada para imam yang dapat dipergunakan dalam Pelayanan Sakramen-Sakramen Gereja sepanjang tahun,  yang mengingatkan kita pula untuk selalu berpaling kepada Tuhan yang melimpahkan belas kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita melalui Sakramen-Sakramen ini.

Hari Ini kita memasuki Tri Hari Suciyang diawali Kamis Putih untuk merayakan Misteri Paskah, yang merujuk Perjamuan Paskah Yahudi.  Asal mulanya adalah persembahan anak domba kepada Tuhan sebagai hasil panen pertama, “Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba…” (Kel 12:3). Bagiumat Katolik Paskah adalah Perayaan sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan, yang diawali tradisi memperingati Perjamuan Malam Terakhir yang dipimpin oleh Yesus.Ritual Perjamuan Malam Terakhir  inilah yang diperingati sebagai Perayaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus dengan Yesus sendiri yang menjadi korban penebusan dosa manusia,  “…yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: (‘Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi kenangan peringatan akan Aku’). ..Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai ia datang” (I Kor 11:23-26).  Pada Misa Kamis Putih juga diadakan Pencucian Kaki oleh Imam kepada umat  sebagai peringatan Yesus yang mencuci kaki para murid-Nya dalam Perjamuan Terakhir, “…kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu” (Yoh 13:5).  Pembasuhan kaki ini menyimbolkan suatu teladan untuk merendahkan diri dan melayani, sebagai seorang ‘hamba’,  pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Guru kepada murid-Nya, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14).  Yesus memberikan contoh dan teladan bagaimana menjadi seorang ‘hamba’ yang baik dan murah hati.  Mari kita renungkan, apakah kita sudah menjadi seorang ‘hamba’ yang melayani sesama?.

Doa:  Tuhan Yesus yang baik, terima kasih atas Tubuh dan Darah-Mu yang menjadi sumber  Keselamatan kami dalam penziarahan di dunia.

 

Rosita Djuwana/Tim KKS