June 6, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Kamis, 6 Juni 2019

Kamis, 6 Juni 2019
Pekan VII Paskah

Kisah Para Rasul 22:30; 23:6-11;
Yohanes 17:20-26.

Hari raya Idul Fitri, di Indonesia dikenal sebagai Lebaran,  adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal penanggalan Hijriyah.  Untuk tahun ini, Idul Fitri dirayakan tanggal 5 Juni dalam kalender Masehi dan tanggal 1 Syawal 1440 dalam kalender Hijriyah. Hari ini adalah  Lebaran hari kedua,  acara penting bagi umat Islam di Indonesia untuk saling berkumpul dan bersilahturahmi bersama sanak saudara dan keluarga. Di Indonesia ada beberapa tradisi lokal yang menjadi inti acara Lebaran yang tidak dijumpai di Timur Tengah atau negara-negara lainnya. Salah satunya adalah acara halal bihalal atau saling memaafkan yang bermula sejak dakwah Wali Songo di abad 15.   Acara sunkem terhadap orang tua atau yang dituakan juga merupakan tradisi yang diwajibkan.Kemudian dilanjutkan dengan makan ketupat yang menjadi makanan khas Lebaran, yang berasal dari Bahasa Jawa yaitu ‘kupat’ atau ‘ngaku  lepat’ yang artinya mengakui kesalahan.Setelah berpuasa selama sebulan, umat muslim menghidupi tradisi Lebarannya dengansaling memaafkan dan dengan hati bersih menyongsong hari esok. Apa yang mereka lakukan, telah kita lakukan selama Prapaskah, berpantang dan berpuasa, hidup menuju kesucian, sambil menghayati jalan salib Yesus sampai tibanya Hari Raya Paskah, kita bergembira menyongsong Sang Juru Selamat yang telah bangkit.  Perlu kita renungkan, apakah Lebaran bagi umat Muslim dan paskah bagi kita dapat merubah hidup kita kearah kesucian? Setelah menyangkal diri dengan berpuasa, apakah kita dapat menjadi manusia baru?  Jika kita melihat dalam Perjanjian Lama, ternyata nenek moyang umat Muslim dan umat Katolik adalah bersaudara.   Inilah saat nya kita bersilahturahmi di antara dua saudara keturunan Ismael dan Ishak untuk saling mendukung guna kepentingan negara kita.

Yesus berdoa kepada Bapa-Nya bagi  para pengikut-Nya, “Dan bukan untuk mereka ini saja aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17:20-21).Yesus menginginkan persatuan di antara para pengikut-Nya,  termasuk  pada kita sebagai rasul di jaman ini dalam mewartakan Sabda-Nya.  Sebagai kaum minoritas dalam bangsa yang majemuk, sebagai pengikut Yesus, kita harus dapat memberikan kesaksian dalam hidup keseharian kita, mewartakan Kerajaan Allah di tengah perbedaan.   Bersatu dalam perbedaan akan terasa indah jika dapat diterapkan di negara kita yang sangat ini sedang menderita sakit.

Doa Yesus ini sungguh dapat kita lihat buahnya dalam diri Paulus.  Ia berhasil keluar dari konflik antara orang Saduki yang menolak adanya kebangkitan orang mati dan orang Farisi yang mengakui adanya kebangkitan.  Paulus menyatakan bahwa ia termasuk golong Farisi, yang serta merta mendapatkan dukungan dari orang Farisi, “Maka terjadilah keributan besar.  Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: ‘kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini” (Kis 23:9).  Mari kita renungkan, apakah Doa Yesus kepada kita, membuat  kita siap menjadi Terang-Nya  untuk menghindari konflik di tengah masyarakat seperti yang telah dilakukan Santo Paulus?.

Doa: Yesus hadirlah selalu dalam hidup kami agar kami dapat menjadi Terang-Mu.

 

Rosita Djuwana/Tim KKS