January 2, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Rabu, 2 Januari 2019

Rabu, 2 Januari 2019
1 Yoh 2:22-28;  Mzm. 98:1-4 ;  Yoh. 1:19-28

Dalam bacaan pertama, penulis surat 1 Yohanes kembali mengingatkan jemaat tentang perlunya membentengi diri dari pengaruh seorang pendusta (antikristus). Ia menasehati bahwa apa yang kita dengar dari semula agar tetap tinggal dalam diri kita, yang berarti pula kita akan tinggal dalam Anak dan Bapa.

Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa(1 Yoh 2:24)

Frasa kata ‘apa yang telah kamu dengar dari semula’ bisa berarti kebenaran yang kita dengar dari Yohanes pembaptis, seorang utusan Allah yang sejak semula menjadi pembuka jalan bagi kedatangan Tuhan. Ia membawa kabar baik, kabar kebenaran dari seorang yang bukan pendusta, yang mengerti tugas utamanya bukan untuk mewartakan dirinya, namun mewartakan Yesus yang lebih besar daripada dirinya.

Yohanes pembaptis menyadari ia tidak perlu popularitas, ia sadar akan  misinya di dunia ini berkat karya Roh Kudus dalam dirinya sejak dalam kandungan. Ia bahkan tegas menolak disandingkan dengan tiga nama besar yaitu Mesias, Elia dan Nabi.

Ia juga memaklumi banyak orang belum mengenal Tuhan, seperti yang dikatakannya saat orang Farisi bertanya tentang maksud pembaptisannya : “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,…..” (Yoh 1:26).

Berkat Rahmat Allah dan kesadaran akan situasi bangsa yang membutuhkan keselamatan inilah, Yohanes pembaptis hadir berseru-seru di padang gurun untuk meluruskan jalan Tuhan (Yoh.1:23). Padang gurun merupakan lambang kegersangan iman, lambang tempat iman diuji, disanalah pemakan belalang ini memulai karyanya membuka jalan untuk keselamatan banyak orang.

Bagi kita yang menerima tugas perutusan, tanpa disadari kitapun sedang berada di padang gurun. Banyak orang sekitar kita membutuhkan pertolongan, termasuk kita pribadi juga membutuhkan pertolongan orang lain. Yohanes pembaptis mengajarkan banyak hal kepada kita agar kita tidak memiliki motivasi pribadi dalam melaksanakan karya perutusan, tidak mencari popularitas, tidak kecewa kalau ditolak, namun harus fokus akan misi perutusan kita untuk membawa kabar keselamatan Allah kepada semua orang sehingga semakin banyak orang boleh mengenal dan merasakan kasih-Nya.

Djoli Nizar / Tim KKS