December 5, 2018 Renungan Harian N Admin Share Articles
Rabu, 5 Desember 2018

Rabu, 5 Desember 2018
Pekan Adven 1;
Yesaya 25:6-10a;
Matius 15:29-37.

Father Emiliano Tardif MSC, seorang Misionaris berkebangsaan Kanada, yang telah meninggal dunia pada tanggal 6 Juni 1999, dalam usia 71 tahun,  sekarang dalam proses akan diberikan gelar beato, dengan bukunya ‘Jesus is Alive’, adalah seorang yang telah membuka mata jasmani dan mata rohaniku.  Ketika itu, tahun 1997, satu komunitas Karismatik, mengundang beliau untuk memberikan retret untuk para romo, dan tentunya rekoleksi untuk para awam di Jakarta.  Bukan suatu kebetulan, aku dipilih Tuhan untuk menjadi  panitia, yang dapat menjadi saksi hidup, bagaimana Yesus sungguh hidup.  Ketika Father Tardif memimpin misa secara konselebrasi, ketika Hosti diangkat, Father Tardif mengucapkan Sabda Pengetahuan, yang diberikan langsung oleh Yesus, berupa bisikan di telinganya, tiba-tiba, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, persis seperti Injil pada hari ini, “Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel” (Matius 15:31), akulah salah satu orang yang takjub, heran campur bingung, mengingat iman sebiji sesawi saja aku belum memilikinya saat itu.

Mari kita ber-kontemplasi, pada Adven hari ke 5 ini, bersamaYesus menyusuri pantai Danau Galilea, lalu Yesus naik ke bukit,  Ia menyembuhkan banyak orang, lalu Yesus memberi mereka makan, “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu.  Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan…” (Mat 15:32).  “Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak…..Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki…” (Mat 15:36-38).

 

Apa yang kita dapatkan selama tiga hari bersama Yesus ketika Ia menyembuhkan banyak orang sakit  dan memberi makan empat ribu orang?  Ia memenuhi segala macam kebutuhan manusia,  orang-orang sakitmaupun para pengantarnya, bukan hanya mengalami kesembuhan jasmani, tetapi hidup mereka diubah, terlebih dengan tujuh roti dan beberapa ikan, Yesus memuaskan mereka.  Hal yang sama juga dilakukanuntuk kita, ketika Yesus dalam perayaan Ekaristi, memberikan diri-Nya secara total dalam rupa Roti, yang diambil, disyukuri, lalu dipecah-pecah , melalui tangan para Imam-Nya, beserta Anggur yang diubah menjadi darah-Nya,yang kemudian dibagi-bagi,  sebagai kurban penebusan dosa manusia,  “Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu pulang” (Mat 15:39).  Begitu pula dengan Kita, setelah Perayaan Ekaristi, diberi berkat dan diutus oleh Imam,  kita dituntut untuk melakukan tugas kita masing-masing untuk membantu Yesus menjadi rasul zaman ini, menjadi mitra kerja-Nya, melakukan perbuatan kasih, yang dapat menjadi berkat bagi sesama dan untuk menjadi Terang Kristus dimanapun kita berada.

Doa: Tuhan Yesus, berilah kami hati yang penuh belas kasih terhadap sesama yang memerlukan pertolongan, sehingga kami dapat menjadi alat-Mu di dunia ini. Amin.

Rosita Djuwana/Tim KKS