June 5, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Rabu, 5 Juni 2019

Rabu, 5 Juni 2019
PW St. Bonifasius, Uskup dan Martir

Kisah Para Rasul 20:28-38;
Yohanes 17:11b-19

Hari ini Gereja kembali memperingati seorang Martirnya, St. Bonifasius, yang diangkat sebagai Uskup Agung Mainz, Jerman oleh Paus Gregorius III pada tahun 723.  St. Bonifasius meninggal sebagai seorang Martir ketika sedang menjalankan misinya memberantas kekafiran di Frisia, Jerman pada tahun 754.  Rasanya kita patut bersyukur memiliki gereja dengan memakai nama

seorang Martir Andreas Kim Tae Gon.  Gereja yang sempat viral karena Tabernakelnya yang berwarna emas, yang seakan-akan asli ‘gold’, sehingga membuat repot pastor paroki untuk menjelaskan bahwa Tabernakel itu hanya warnanya saja yang emas.  Rupanya kisah heroik seorang martir kurang menarik  untuk dibicarakan dibandingkanberita hoax saat ini.   Kisah hidup mereka dapat menjadi contoh bagaimana beriman yang benar kepada Yesus Kristus dalam kehidupan kita.  Satu pernyataan yang sangat memberikan motivasi dari St. Bonifasius adalah: ‘Apa yang tidak dapat kita angkat sendiri, hendaklah kita angkat dengan pertolongan Tuhan yang Mahakuasa’. Santo Bonifasius telah menjadikan Yesus sebagai Penasehatnya yang setia, selalu mengandalkan-Nya dalam segala pencobaan dan kesulitan, selalu berpegang teguh akan pertolongan Yesus dan tidak pernah berputus asa. Santo Paulus juga melakukan hal yang sama, dalam perpisahan dengan  para jemaat di Efesus mengatakan bahwa hidup di dunia harus selalu waspada dan mengandalkan Tuhan, “Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah…Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya..” (Kis 20:31-32).

Injil hari ini, dalam perjamuan malam terakhir, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, memohon agar memelihara dan menjaga para murid-Nya, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka daridunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (Yoh 17:15).  Tantangan dan kesulitan untuk hidup dan bertahan sebagai Pengikut Kristus harus kita lalui sepanjang penziarahan di dunia, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yoh 17:14).   Yesus mengerti betapa tidak mudah menjadi utusan-Nya, seperti Ia telah menjadi Utusan Bapa-Nya sampai harus mati di salib, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka kedalam dunia”  (Yoh 17:18). Untuk itu Ia memberikan pesan-pesan akhir sebelum kepergian-Nya kepada para murid yang dikasihi-Nya, dengan maksud  menguatkan mereka supaya hidup dalam kasih dan sukacita, “..supaya  penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka” (Yoh 17:13).Sukacita yang diberikan Yesus adalah sukacita ketika kita senantiasa bersekutu atau menjadi bagian dari diri-Nya dalam persatuan dengan Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam Gereja-Nya yang Kudus.

Pesan-pesan perpisahan dari Yesus dan Santo Paulus kepada para pengikut-Nya berlaku pula untuk kita saat ini, agar kita  dapat hidup ke arah kekudusan dalam perlindungan-Nya.Begitu pula dengan nasehat St Bonafisius,‘Hendaklah kita menjadi gembala waspada, yang menjaga kawanan Kristus’.  Sungguh pesan yang sangat bermakna bagi kita agar senantiasa waspada dan berpegang pada Sabda-Nya dalam menjalankan tugas sebagai utusan-Nya.

Doa: Yesus yang baik, berilah kami Hikmat agar dapat memperjuangkan persatuan dengan sesama dan terutama dengan Engkau sendiri.

 

RositaDjuwana/Tim KKS