April 20, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Sabtu, 20 April 2019

Sabtu, 20 April 2019
SABTU SUCI

Kitab Kejadian 1:1-2:2:2; Kitab Keluaran 14:15-15:1;
Kitab Yesaya 55:1-11; Rome 6:3-11; Lukas 24:1-12.

Menjelang Perayaan Suci Malam Paskah,hati terasa bahagia karena sebentar lagi masa puasa dan pantang  akan berakhir.  Penyangkalan diri akan nafsu makan, nafsu menahan emosi, nafsu berbelanja, sebentar lagi akan berakhir. Apakah hanya selama masa prapaskah saja kita menjadi orang suci sesudahnya kita kembali kepada kebiasaan-kebiasaan masa lalu?.  Mengikuti Jalan Salib  Yesus memang tidaklah mudah, tidak semudah mengucapkan ‘Pembaharuan Janji Baptis’ yang kita lakukan pada malam paskah.‘Sanggupkah kita menentang kejahatan dalam diri sendiri dan dalam masyarakat?’‘Sanggupkah kita menolak godaan-godaan setan dalam bentuk takhayul dan hiburan tidak sehat?’, ‘Ya, kami sanggup’.   ‘Percayakah saudara-saudara akan Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi? ‘Ya, kami percaya’. Semudah itu kita berjanji, semudah itu kita mengingkari.  Misteri Paskah Yesus yang kita hayati selama prapaskah, tinggal kenangan,  yang akan kita hayati kembali tahun depan, kalau masih diberi kesempatan….

Pada Jumat Agung, ketika Yesus wafat, kegelapan meliputi seluruh daerah itu selama tiga jam, “Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga” (Mat 27:45).  Kisah penciptaan, kalimat pertama dari Kitab Suci adalah: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.  Bumi belum terbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya” (Kej 1:1-2). Pekerjaan yang dilakukan Allah pada hari pertama adalah ‘menjadikan terang’, “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang’.  Lalu terang itu jadi” (Kej 1:3).  Apa hubungan kegelapan pada Jumat Agung dengan gelap gulita ketika Allah menciptakan dunia di hari pertama?  Ketika Yesus menembuskan napasnya yang terakhir, dunia hidup tanpa Allah sehingga dunia diliputi kegelapan, dunia kembali kepada keadaannya pada saat penciptaan sebelum Allah berfirman ‘jadilah terang’. Menjelang Kebangkitan-Nya, dunia masih gelap karena dosa manusia, sehingga perlu mendatangkan Cahaya.  Untuk itulah Perayaan Sabtu Suci disebut ‘Upacara Cahaya’. Imam memberkati Api yang digunakan untuk menyalakan lilin yang adalah symbol akan Yesus yang adalah Terang Dunia. Manusia  membutuhkan Terang Kristus, untuk melawan kegelapan dosa.Allah selalu hadir dengan Terang-Nya untuk kebaikan manusia, Ia mengutus  Musa untuk membawa Bangsa Israel keluar dari Mesir dari tempat mereka dijadikan budak, “…sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah laut di tempat yang kering“ (Kel 14:16). Mukjizat yang sungguh dahsyat, mereka bersyukur, dan orang Israel melihat betapa besarnya perbuatan Tuhan.Tetapi Bangsa Israel kembali berbuat dosa sehingga Allah mengutus Nabi Yesaya, “..baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya..” (Yes 55:7). Kejahatan terus berlanjut,  akhirnya…Yesus, Putra Allah harus disalibkan demi menebus dosa manusia.

Yesus telah bangkit, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?  Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit” (Luk 24:5-6).  Kita telah ditebus, “..sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh Kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4).  Mari kita renungkan…jangan mudah melupakan Kebaikan Tuhan dengan tetap berbuat dosa…bertobatlah… lihatlah Salib-Nya memanggil kita…

 

Rosita Djuwana/Tim KKS