June 8, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Sabtu, 8 Juni 2019

Sabtu, 8 Juni 2019
Pekan VII Paskah

Kisah Para Rasul 28:16-20.30-31;
Yohanes 21:20-25.

Hari ini adalah hari terakhir Novena Pentakosta. Besok Gereja merayakan Hari Raya Pentakosta. Yesus tidak meninggalkan para murid-Nya tetapi Ia mengutus Roh Kudus untuk menolong mereka melanjutkan Karya-Nya di dunia, menjadi pewarta cintakasih-Nya. Kisah tentang Yesus tidak hanya dibaca pada Injil dan Kisah Para Rasul tetapi menjadi tugas kita untuk terus menghidupinya dengan pertolongan Roh Kudus yang  mendampingi kita.  Roh Kudus selalu hadir dalam setiap peristiwa Gereja, menguduskan semua Sakramen, secara khusus Sakramen Ekaristi.  Roh yang sama yang  memberikan karunia untuk dapat memberikan kasih dan sukacita dalam melayani Tuhan dan sesama. Pada suatu kesempatan  aku diminta membawakan doa dalam resepsi pernikahan di suatu hotel.  Aku telah berusaha menolak tugas itukarena kurang percaya diri, walau akhirnya mesti menjalankannya.  Ketika mendekati tempat resepsi, sepatu heels yang aku kenakan tiba-tiba solnya terlepas. Panik dan bingung,  tetapi aku harus tetap membawakan doa, senantiasa mengandalkan  Yesus. Doa yang telah aku persiapkan seketika hilang lenyap dari ingatan dan  sungguh ajaib akhirnya aku dapat berdoa dengan lancar tidak terlihat ada masalah dengan sepatuku.  Aku percaya saat itu Roh Kudus yang berdoa bukanaku.  Ternyata ketika Allah memanggil dan kita menjawab-Nya Ia akan hadir memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk Kemuliaan-Nya.  Turunnya Roh Kudus atas para rasul pada hari Pentakosta diakui sebagai hari lahirnya Gereja Katolik yang menghormati uskup-uskupnya sebagai pengganti para rasul.  Teristimewa Uskup Roma (Sri Paus) sebagai pengganti dariSanto Petrus,  yang  menerima perintah dari Yesus ‘Gembalakanlah domba-dombaku’.

Injil hari ini, percakapan antara ‘Sang Guru’ dengan ‘murid-Nya’ dapat menjadi bahan renungan kita.  Petrus bertanya kepada Yesus tentang murid yang dikasihi-Nya, “Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata keapda Yesus: (‘Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia?’)…Jawab Yesus: (‘Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.  Tetapi engkau: Ikutlah Aku’)” (Yoh 21:21-22). ‘Itu bukan urusanmu’ dapat menjadi pegangan kita untuk selalu fokus pada tugas kita sebagai Pengikut Kristus.  Seringkali kita sibuk memikirkan urusan lain yang bukan menjadi tanggung jawab kita sehingga menimbulkan konflik.  Yesus mengingatkan Petrus akan tugasnya yang paling utama sebagai murid-Nya, yaitu ‘Mengikuti Dia’. Tugas seorang murid mengikuti Yesus merupakan perjalanan tanpa batas dan harus terus menerus berpegang pada perintah-Nya untuk Memuliakan-Nya agar tidak kehilangan arah dan memuliakan diri sendiri.

Siapakah murid yang dikasihi Yesus?  Rasul Paulus telah memberikan teladan bagaimana mewartakan Yesus dengan segala milik kepunyaan, jiwa, raga dan hartanya, “Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu;…Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus” (Kis 28:30-31). Bagaimana cara kita mewartakan Yesus yang kita Imani?  Kesetiaan untuk bertahan dalam kesesakan dan kesulitan hidup adalah cara untuk mendapatkan tempat istimewa di hati Yesus dan membuktikan siapa murid yang dikasihi-Nya.

Doa: Tuhan Yesus berilah kami Hikmat agar dapat menjadi murid yang Engkau kasihi.

 

Rosita Djuwana/Tim KKS.