April 15, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Senin, 15 April 2019

Senin, 15 April 2019
PEKAN SUCI

Yesaya 42:1-7;Yohanes 12:1-11.

Pekan Suci dimulai dari ‘Minggu Palma’ yang memperingati masuknya Kristus ke Yerusalem dengan prosesi meriah.  Umat menyanyikan lagu ‘Yerusalem lihatlah Rajamu’sambil melambaikan Daun Palma yang diperciki air suci.   Sungguh beruntung kami dari Wilayah Agnes mendapat tugas koor pada pembukaan Pekan Suci tahun ini.Lagu yang dinyanyikan sangat ironis, diawali lagu yang menyambut  Yesus dengan semangat kemudian ditutup dengan lagu  ‘Oh Yesusku’, lagu yang menceritakan Sang Penebus yang bermahkotakan duri. Sambil bernyanyi, aku berkontemplasi berada di antara kerumunan orang Yahudi yang bersuara keras mengelu-elukan Yesus di Gerbang Yerusalem.  Yesus yang mengendarai keledai, disambut dengan sorakan penuh kegembiraan sambil melambaikan tangan, menyerukan ‘Hosana-Hosana’.  Aura kebahagiaan terasadi dalam gereja,  umat menyambut  iring-iringan romo,  pro diakon dan misdinar yang bertugas,  seakan-akan menyambut Yesus ‘Sang Raja’.  Namun tak lama berselang, ‘Kisah Sengsara Yesus’ dibacakan sebagai bacaan Injil, betapa sadis orang-orang itu menghujat dan menyiksa Yesus.  Aku pun terhenyak, kemana mereka yang tadi bernyanyi lantang menyambut Yesus sebagai Raja?  Apakah  mereka adalah orang yang sama yang berbalik menyerukan agar Yesus disalibkan?  Apakah aku menjadi bagian dari mereka ini? Kontemplasi berlanjut….

Yesus ‘Sang Raja’ divonis hukuman mati, terseok seok memanggul salib dan didera, tiga kali terjatuh, dihina, dihujat sampai tiba di Golgota, kemudian disalib dan wafat.  Sungguh tragis, para murid bersedih, dunia menangis.  Yesus yang adalah Allah telah mengosongkan diri-Nya (kenosis) dengan mengambil rupa seorang Hamba dan menjadi sama dengan manusia, “Lihat itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepada-Nya aku berkenan” (Yes 42:1).Karena kesetiaan kepada Bapa-Nya dan cinta-Nya kepada manusia, Yesus rela ber-inkarnasi mengambil alih dosa-dosa manusia, untuk Karya Keselamatan, “ Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai…” (Yes 42:4). Pengorbanan-Nya yang begitu besar tidaklah sebanding dengan minyak narwastu yang diurapi pada kaki-Nya oleh Maria,“Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwatu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya” (Yoh 12:3). Yudas mengkritik Maria, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang miskin?” (Yoh 12:5).  Tindakan Maria dan Yudas adalah cermin dari kehidupan kita berelasi dengan sesama dan Tuhan Yesus.  Apakah kita sanggup menyangkal diri untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan seperti yang dilakukan Maria?Ataukah kita seperti Yudas Iskariot,  yang mengangap uang begitu berharga, sehingga kita menjual Tuhan untuk mendapatkan harta dan kenikmatan dunia?  Dosa kita telah ditebus oleh Yesus, mari kita membalas pengorbanannya dengan bertobat, berbuat baik dan berhikmat, jangan menunda-nunda.  Hidup adalah kesempatan yang terbatas…

Doa: Tuhan Yesus, ampuni segala dosa-dosa kami yang lebih mementingkan hal-hal duniawi.

 

Rosita Djuwana/Tim KKS