April 16, 2018 Renungan Harian I Admin Share Articles
Senin 16 April 2018

Hari Biasa Pekan III Paskah

Kis. 6:8-15;  Yoh 6:22-29

 Bacaan Injil harian selama sepekan ini diambil dari Injil Yohanes bab 6 yang menampilkan tema besar ROTI KEHIDUPAN. Diawali dengan Yoh 6:1-15 mengisahkan tanda mukjizat keempat : Yesus memberi makan orang banyak. Injil Yohanes dikenal dari tulisannya yang penuh dengan makna simbolis dan gaya bahasa yang puitis dan sering memiliki arti ganda dan salah mengerti, tidak terkecuali pada bab 6 ini.  Makanan yang diberikan kepada orang banyak berupa roti dan ikan hanya dilihat orang sebagai mukjizat saja yang membawa berkat jasmani. Demikian pula tanggapan Filipus dan Andreas yang masih jauh dari iman yang memadai. Mereka yang paling dekat dengan Yesus pun belum paham jatidiri Yesus sesungguhnya serta apa makna roti serta kelebihannya yang harus mereka kumpulkan dan tidak boleh hilang (Yoh. 6:12). Pemahamannya dapat kita baca pada wejangan Yesus selanjutnya pada ayat 22-71 yang juga menjadi bacaan injil berurutan selama sepekan ini, setelah diselingi tanda mukjizat kelima ayat 16-21.

Bacaan injil hari ini Yoh 6:22-29 menampilkan dialog antara Yesus dengan orang banyak yang juga menyiratkan ‘salah mengerti’ orang banyak akan perkataan Yesus. Latar panggung kejadian ini dari awal hingga akhir berada di Kapernaum setelah dikisahkannya tanda mukjizat kelima Yesus berjalan diatas air menyusul para murid yang telah berlayar terlebih dahulu. Saat orang banyak berhasil menyusul Yesus dan menemukannya di Kapernaum, komplikasi mulai muncul dalam dialog.

Pertanyaan mereka, kapan Ia datang ke Kapernaum tidak dijawab Yesus, tetapi Yesus malah menegur mereka karena pertama,  mereka mencari Yesus dengan motivasi yang keliru, hanya karena telah makan roti sampai kenyang dan bukan karena telah melihat tanda-tanda (ay. 26). Iman mereka belum memadai, mereka gagal paham tentang jatidiri Yesus, sama seperti Filipus dan Andreas (ay 5-9) yang hanya berpikir tentang makanan duniawi.

Kedua, mereka gagal paham lagi saat Yesus mengajak mereka bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kehidupan yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepada mereka (ay. 27). Pemahaman mereka dengan kata ‘bekerja’ merujuk pada pekerjaan-pekerjaan (jamak) dalam hukum Taurat (kitab Ulangan), terlihat dari pertanyaan yang mereka sampaikan di ay. 28 ‘apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?’. Tetapi Yesus menjawab pertanyaan mereka, bahwa hanya satu pekerjaan Allah (tunggal) yaitu mengajak mereka percaya kepada Yesus yang diutus oleh Allah (ay.29).

Pesan yang bisa ditarik dari awal dialog Yesus diatas, Yesus mengajak kita bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kehidupan kekal. Hidup yang kekal tidak bisa diperoleh hanya dengan menjalankan hukum-hukum agama, namun Yesus memberikan satu jalan yang pasti untuk hidup kekal yaitu dengan PERCAYA kepada-Nya sebagai utusan Allah.

 

 Djoli Nizar / Tim KKS