Sakramen Share Articles

Pengurapan Orang Sakit

Untuk pelayanan umat Paroki Kelapa Gading pada jam kerja harap hubungi sekertariat Paroki Kelapa Gading di no telp 0214501028

Di Luar jam kerja mohon menghubungi ketua lingkungan masing – masing

Mengikuti pengajaran Vatikan II, menegaskan bahwa Urapan orang sakit tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada di ambang kematian saja. Maka saat yang baik adalah pada saat kita mulai menghadapi bahaya maut, misalnya ketika akan menghadapi operasi besar, ataupun ketika baru mendapat diagnosa penyakit tertentu yang cukup serius; ataupun jika kita sudah lanjut usia. Jika sesudah menerima sakramen ini kita sembuh, kita dapat menerimanya kembali jika kita mengalami sakit berat lagi.

Jika Pengurapan dilakukan di rumah atau di rumah sakit, demikian urutannya:

  1. 1. Ritus dimulai dengan tanda  salib dengan air suci yang mengingatkan kita akan janji baptis, bahwa kita akan mati bersama Kristus agar dapat bangkit dengan kehidupan baru bersama Dia.
  2. 2. Bacaan Kitab Suci sesuai dengan kondisi orang yang sakit. Imam akan berdoa dan akan menyampaikan doa-doa dari sesama anggota Gereja dan mengundang yang sakit untuk juga berdoa bagi anggota Gereja.
  3. 3. Imam menumpangkan tangan ke atas kepala orang yang sakit, berdoa atas minyak suci dan mengurapi dahi dan tangan orang yang sakit.
  4. 4. Imam mendoakan orang yang sakit dan mengundang semua yang hadir untuk berdoa “Bapa Kami”.
  5. 5. Selanjutnya, orang yang sakit dapat menerima Komuni kudus.
  6. 6. Imam kemudian memberkati orang sakit dan semua yang hadir.

Dasar dari Kitab Suci

Sesungguhnya, pengurapan orang sakit diberikan atas perintah Yesus sendiri. Yesus memberikan perintah kepada para muridNya untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan mengurapi orang sakit dengan minyak (lih. Mrk 6:13, Luk 10:8-9). “Sembuhkanlah orang sakit,” (Mat 10:8) demikianlah seruan Yesus kepada para rasulNya. Penderitaan dan penyakit manusia selalu menarik perhatian Tuhan, sehingga semasa hidupNya, kemanapun Yesus pergi mengajar, hampir selalu disertai dengan mukjizat penyembuhan orang-orang sakit (Mat 12:5, 14:36, Mrk 1:34, 3:10).

Dalam menyembuhkan, Yesus tidak hanya menyembuhkan badan namun juga jiwa para orang sakit dengan mengampuni dosa mereka (lih. Mrk 2:5-12); dan pengampunan dosa (kesembuhan rohani) dilihat oleh Yesus sebagai sesuatu yang lebih utama daripada kesembuhan badan. Yesus menginginkan agar para penderita sakit untuk percaya kepada-Nya (lih. Mrk 5: 34,36). Ia menggunakan tanda-tanda untuk menyembuhkan, seperti ludah dan perletakan tangan (lih. Mrk 7:32-36; 8:22-25), adonan dari tanah dan pembasuhan (lih. Yoh 9:6-7), ataupun penjamahan jubahNya (lih. Luk 6:19).

Perhatian Yesus inilah yang diteruskan secara turun temurun oleh para rasul dan para murid-Nya. Rasul Yakobus adalah yang secara khusus menuliskan hal ini, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia mamanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesinya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni” (Yak 5:14-15). Tradisi ini yang diturunkan menjadi salah satu dari ketujuh sakramen Gereja.