S-Kerasulan keluarga Share Articles

Seminar “PERAN KELUARGA Menyambut Tahun Berhikmat”

Seminar “PERAN KELUARGA Menyambut Tahun Berhikmat”
@Paroki KG, 24 Nov 2018

Menyanyikan Lagu Nasional: “Bangun Pemudi Pemuda” yang mengajak kita untuk bangun bertanggung jawab pada masa yang akan datang dengan sudi tetap berusaha kerja keras dengan hati teguh lurus dan pikir tetap jernih;

Doa Keluarga: berkat bagi keluarga sebagai
bagian terkecil masyarakat yang dipersembahkan bagi Indonesia melalui saling menghargai dan menyayangi;

Persembahan Lagu dari Fransisca Helen S. untuk Keluarga2 di Paroki Kelapa Gading: “Hadiah Dari Tuhan” yang mengungkapkan bahwa keluargaku adalah hadiah terindah dari Tuhan maka pelayananku adalah persembahan bagi Tuhan atas berkatNya dalam keluargaku.

SAMBUTAN & PEMBUKAAN: oleh Romo Albertus Hendaryono, Pr tentang kilas balik uang koin 5 Rupiah yang sudah sangat langka, bergambar keluarga. Semoga kesatuan dan keharmonisan keluarga kita juga tidak semakin langka.
Ciri khas perkawinan Katolik adalah sakramental, sesuatu yang manusiawi dan alami yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan kita: air untuk membersihkan jiwa rohani, suami-istri yang secara alami jatuh cinta dipakai Tuhan untuk menyelamatkan hidup kita sekeluarga.

SPIRITUALITAS: Peran Keluarga dalam Kaderisasi Pelayanan Gereja (Romo Adrianus Hery Wijayanto, SJ):

Pentingnya dalam keluarga utk berkomunikasi, kerja sama dan mencari solusi.
Tantangan pertanyaan ttg “situasiku”:
•    Keluargaku selalu ….. (FH: bahagia?)
•    Keluargaku ditantang ….. (FH: menjadi pembawa damai?)
•    Dalam hidup menggereja, keluargaku ….. (FH: berkontribusi untuk melayani?)
•    Dalam hidup bermasyarakat, keluarga kami ….. (FH: menampilkan wajah kerahiman Allah?)
Keluarga adalah Gereja tempat bersemainya kehadiran Tuhan.

Hikmat-kebijaksanaan merupakan panggilan kudus dengan hidup mencintai kebenaran.
Yesus menuntut rekonsiliasi/pertobatan sebagai tuntutan pembelajaran melalui dialog kehidupan agar layanan berbuah. Ada unsur kepekaan hati nurani dengan melibatkan karunia Roh Kudus agar bisa diterima oleh banyak orang.

“Diagram 5A”: relasi aku dg Allah, anda, alam, alat.
Rekonsiliasi dengan Allah diwujudkan dengan kata maaf untuk menjaga relasi dalam diagram 5A.
Unsur-unsur nilai: keharmonisan (keseimbangan dalam berbagai segi kehidupan), keadilan (kesetaraan dan keseimbangan kondisi), keberanian (bergerak dan mengubah pribadi-pribadi), kerohanian (mampu melihat kehadiran Tuhan dalam berbagai peristiwa kehidupan).
Gambaran anak terhadap Allah dilihat dari keteladanan orang tua, anak melihat dirinya sebagai pribadi yang dicintai oleh orang tua sebagai wakil Tuhan.
Pelayanan yang menghadirkan wajah kerahiman Allah.

Kesadaran akan keluarga sebagai Gereja, ada unsur: persekutuan, komunitas, pengkudusan, keterlibatan, utusan dan surat Tuhan dalam sebuah pribadi. Mengantar keluarga untuk memahami “sense of Jesus, sense of church, sense of mission” yang bertumbuh dan berbuah yang selalu memberikan dan melepaskan (kaderisasi)/menyiapkan penerus pelayanan kita agar Gereja tetap selalu bertumbuh sampai kapan pun.
Film inspiratif “Quo vadis Domine” yang saling berkorban dan saling menjaga, karena percaya Kristus menyertai sampai akhir zaman.

Proses iman keluarga Katolik seperti Keluarga Nazareth yang selalu menghadirkan Tuhan. Berproses dari: sadar “mengenal”, komitmen “mencintai”, dan militan “mengikuti” Kristus.
Kualitas kehidupan beriman keluarga Katolik dengan sistem nilai “man/woman for other” dan “God time”.

Prioritas pembinaan anak menjelang kematangan dan kedewasaan pribadi (usia 12th) diperkenalkan pada kepekaan dan kepedulian religius/hidup beragama, dengan wawasan hidup yang universal, militan, setia, bertekun, lepas bebas.
Sejak muda punya komitmen baptis menjadi: iman, raja, nabi, merupakan integritas untuk menjadi tugas panggilan sebagai seorang Katolik. Keseimbangan pendidikan intelektual, emosional, spiritual, agar tumbuh kasih dan belaskasih yang membawa pada keterlibatan sebagai rasul yang handal untuk kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

FAMIY LEADERSHIP: Meneladan Keluarga Kudus (Stephanus Rudi Ok):

Nabi Musa memimpin bangsa/keluarga Israel menuju Tanah Perjanjian. Family leader-SIP (Santun, Inspiratif, Patriotik/Sukacita-Ikhlas-Penuh syukur) membawa keluarga menuju masa depan bahagia dalam pelayanan di Gereja dan masyarakat, didukung kemajuan informasi teknologi.
Meneladan Bunda Maria: iman yang kuat, berbakti, sederhana, setia menemani keluarga.
Meneladan Santo Yusuf: tulus hati, taat/patuh dan berbakti, sederhana, membimbing dan mengawal keluarga.

Siklus kehidupan: semua ada waktunya untuk terpanggil dalam pelayanan (Pengkotbah 3:1-8).
Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri:
Pesan untuk istri (Efesus 5:22-24) tentang taat; Pesan untuk suami: (Efesus 5:25-33) tentang kasih dan hormat; Pesan untuk anak (Efesus 6:1-9) tentang taat dan kasih.
Berkat pelayanan: ucapan bahagia dan peringatan (Lukas 6:22-23) tentang pelayanan yang membawa berkat sukacita.
Panggilan Tuhan unik karena kedalaman cinta Allah melebihi pemahaman dan rencana manusia.
Perutusan: Yesus mengutus 70 murid berdua-dua (Lukas 10:1-3), tuaian banyak tapi pekerja sedikit.
24 jam sehari untuk pribadi, pekerjaan/belajar, keluarga, tidur/istirahat, serta find a career for life melalui karya pelayanan.
Doa keluarga dengan menanam sensasi iman melalui: benih pelayanan dengan keterlibatan anak-anak, semua terlibat, belajar berbagi (ambil bagian dalam peristiwa kecil menyalakan/meniup lilin), wujud iman dalam perbuatan, warisan luhur masa depan Gereja.
Perjalanan baru untuk menggembalakan keluargaku.

HYPNO PARENTING (Xaverius Endy The):

Pertanyaan interospektif:
• Keluarga Anda tidak mendukung pelayanan?
• Melayani Gereja tetapi belum maximal melayani keluarga?
• Ingin melayani tetapi tidak tau caranya?
• Masih ada masalah keluarga yang mengganjal?
• Rindu malayani Tuhan dengan maksimal dan melayani keluarga secara optimal?

Bukan besar/kecil atau berat/ringannya masalah, tetapi seberapa sering berulang/berlarut lama lah yang menghambat pelayanan.
Yang paling sulit diatasi adalah orang yang tidak tau apa masalah dirinya. Setelah menyadari dan mengakui serta menerimanya, maka masalah diatasi secara sadar, dengan memperbaiki komunikasi dan ada kemauan untuk berubah.
Banyak konflik keluarga berawal dari salah komunikasi.

Harapan orang tua terhadap anak: santun, hormat, percaya diri, berprestasi, sukses, tumbuh berkembang dengan baik dan optimal, tapi sayangnya, semua kisah kehidupan belum tentu sesuai keinginan.
Pesan Injil tentang cara didik anak (Amsal 22:6 dan 29:17).
5 kategori masalah pada anak: pola kebiasaan buruk, perasaan takut, perilaku, prestasi, citra diri (perasaan bersalah, tidak percaya diri, tidak bahagia).

Anak belajar dari kehidupan yang mereka jalani (Dorothy Nolte): toleransi-belajar sabar, dukungan-belajar kepercayaan diri, pujian-belajar untuk menghargai, penghargaan-belajar punya tujuan hidup, rasa adil-belajar keadilan, aman-punya kepercayaan diri, persetujuan-belajar menyukai dirinya, penerimaan dan persahabatan-belajar cinta dalam kehidupan, ketenangan dan kebahagiaan-akan hidup dengan pikiran yang damai.

Orang tua mengisi tangki cinta anak: awalnya anak minta dengan cara baik-baik, jika tidak berhasil maka kemudian berulah untuk mendapat fokus ortu, bila terjadi berulang-ulang karena terbukti efektif dan efisien maka akan berkembang menjadi perilaku, lalu habit, terbentuk karakter, menjadi nasib saat dewasa.

Mengisi tangki cinta dengan waktu yang berkualitas, kata-kata positif, pujian dan dukungan, sentuhan fisik, pelayanan, pemberian hadiah; tatapan mata, sentuhan fisik, memberikan perhatian.
Didik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4).

Tipe-tipe orang tua:
• Over protective/terlalu melindungi,
• Over permissive/terlalu baik yang tidak mendidik,
• Over deminding/menuntut standar tinggi,
• Rejection/menolak anak,
• Dry cleaning/tidak mau tanggung jawab,
• Ideal/bertanggung jawab.

Perilaku merupakan strategi anak untuk mencapai tujuannya. Tujuan awal anak: rasa aman melalui cinta, penerimaan, penghargaan. Bila tercapai maka akan diulangi (menjadi perilaku).
Penyimpangan perilaku anak terjadi untuk mendapat perhatian dan kasih sayang.

Anak berbohong dengan alasan:
meniru ortu, bertanya jawaban yang sudah diketahui, hukuman melebihi kesalahan, orang tua tidak konsisten.
Ketika anak merasa tidak dicintai, ia percaya bahwa dirinya tidak berharga, sehingga tidak masalah bila menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya.

Hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar.
Pikiran bawah sadar: belief & values, attitude, motivation, skill & knowledge – Critical area untuk masuk ke pikiran bawah sadar – menuju Behaviour.
Pikiran manusia terbentuk sejak lahir sampai 12th.

Pentingnya komunikasi karena begitu banyak makna di luar kata-kata:
• 50% postur, gerak isyarat, aroma
• 40% suara, tekanan, nada & ritme.
Peka pada detail bahasa tubuh.
Kalimat dan pikiran positif mengubah relasi dan motivasi hidup.

Yakinlah bahwa setiap orang punya talenta.
Bersyukur adalah kekuatan yang luar biasa.

PENUTUP (Emil Immanuel):
Seminar kaderisasi untuk memotivasi calon Pengurus Lingkungan, merupakan kegiatan berkelanjutan pada pembekalan dan pelatihan sebagai Pengurus Lingkungan untuk memperkuat umat basis sebagai ujung tombak Gereja.

Penulis: Fransisca Helen S.