Wil-Bernadette Share Articles

ZIARAH LINGKUNGAN SANTA BERNADETTE 2 PAROKI KELAPA GADING

“Menepi di Jalan Sunyi, Bermeditasi, dan Berkontemplasi Menyucikan Diri.”

Pada hari Jumat, 23 November 2018 lingkungan St. Bernadette 2 berangkat menggunakan kereta dari Stasiun Gambir menuju ke Stasiun Purwokerto untuk mengunjungi pertapaan Oasis Sungai Kerit (OSK). Pertapaan OSK ini tepatnya berada di kaki gunung Cendana, Melung, Purwokerto yang sejuk dan nyaman sehingga mendukung suasana para pengunjung yang ingin mencari Tuhan dalam keheningan. Tempat pertapaan ini dibuka untuk awam yang ingin merasakan keheningan. Sesampainya di Purwokerto cuaca cerah mendukung untuk memulai peziarahaan. Kami pun bertemu dan berdoa bersama dengan saudara satu wilayah kami yaitu Bernadette 1.
Kami dijemput oleh angkot dan berhenti di parkiran. Kami berjalan kaki dari parkiran menuju pertapaan tersebut kurang lebih 600 meter menanjak. Para peserta terlihat sangat bergembira menuju ke tempat tersebut. Setelah memasuk daerah pertapaan tersebut, pohon rindang nan indah menemani sepanjang perjalanan. Menyusuri jalan setapak sambil melewati rumah-rumah penduduk setempat dengan desiran air sungai yang tenang menambah kesejukan perjalanan kami di siang bolong hari itu. Sekitar pukul 17:30, seluruh peserta dari berbagai kelompok melakukan Ibadat dan makan malam dengan keadaan silentsium diiringi bacaan rohani. Hari itu ditutup dengan ibadat penutup dan istirahat.
Hari berikutnya, pukul 06:00 pagi kami melakukan rosario lalu kami kembali berziarah dan diajarkan bagaimana cara bermeditasi yang dipandu oleh Rm. Maximilian Marciano, ErDio. Tiga suster yang melayani di Pertapaan OSK ini senantiasa membantu Romo dan seluruh peserta. Meskipun Romo dan Suster-Suster hidup dalam kesederhanaan, tetapi mereka sangat bersukacita. Disana kami melakukan relly doa yang dibagi dalam beberapa kelompok untuk merenenungkan kisah Sengsara Tuhan Yesus. Kami bermeditasi di beberapa goa, dan yang terakhir adalah Goa Kerahiman Ilahi. Di goa ini, kami dibasuh dari sumber mata air untuk memuaskan dahaga dan batinnya yang ditanduskan dan dikeringkerontangkan oleh dosa. Dan terakhir kami misa di Taman Getsemani.
Hari terakhir yaitu pada hari Minggu, kami mengawali hari dengan misa di Gereja Katredral Kristus Raja dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Goa Maria Kaliori. Jalan Salib menutup perjalanan peziarahan kami di kota Purwokerto. Setelah itu, kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Dari peziarahan ini, kami memiliki bekal rohani yang berlimpah. Tidak lupa dengan perkataan Rm. Maxi bahwa kita harus memiliki waktu khusus untuk berdoa dan bermeditasi supaya kita bisa mendengar suara Tuhan dalam hidup kita. Jauh dari kesibukan sehari-hari, media sosial, dan riuhnya rutinitas pekerjaan baik untuk kesehatan jasmani dan rohani kita.

Maria Christy Rida P.
Bernadette 2