February 21, 2020 Renungan Harian N Admin Share Articles
Jumat, 21 Februari 2020

Jumat, 21 Februari 2020
Pekan Biasa VI
Yakobus 2:14-24.26 ; Markus 8:34-9:1.

Sosial Media memberikan kemudahan kepada kita dalam berkomunikasi dengan siapa saja dan dimana saja.  Gadget menjadi barang yang sangat berharga di era ini yang dapat mempermudah aktifitas kita tetapi dapat pula menghancurkan kehidupan kita jika salah mempergunakannya.  Teringat ketika mengikuti retret silensium selama 3 hari tanpa gadget, hati merasa galau, seperti ada sesuatu yang hilang.   Ternyata kemelekatan akan sesuatu hal dapat mengganggu hidup kita ketika kita harus meninggalkannya.  Selama retret berlangsung, kami merasa betapa gadget telah membuat jiwa raga kita terikat dengannya,  menjadi tidak lepas bebas  yang membuat kita tidak memiliki kedamaian.  Melepaskan keterikatan adalah salah satu cara ‘menyangkal  diri’,  seperti Yesus berpesan jika ingin mengikutinya,  “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mrk 8:34).

Injil hari ini Markus menceritakan syarat menjadi Pengikut Yesus yaitu harus siap memikul salib dan menanggung penderitaan demi mengungkapkan Kasih Allah.  Kemudian menyangkal diri untuk berani meninggalkan segala kepentingan diri sendiri dan kenyamanan hidup demi kepentingan Allah.  Jika kita sudah beriman kepada Yesus, kitapun harus membuktikan dalam kata dan perbuatan, menjadi pengikut-Nya yang setia dalam mewartakan nilai-nilai Injil dan jati diri sebagai orang Kristiani berlandaskan Kasih Kristus.

Murid-murid Yesus yang sehari-hari hidup bersama-Nya telah melihat perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, yang harusnya beriman kepada-Nya secara mutlak. Tetapi Yesus menyatakan keberatan jika para murid dan orang-orang itu percaya kepada-Nya hanya karena mukjizat-mukjizat-Nya.  Yesus berkata dengan tegas bahwa jalannya adalah jalan Mesias, yaitu jalan penderitaan dan jalan salib, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya”(Mrk 8:35). Ternyata Petrus dan para murid  tidak siap mendengar ‘sang guru’ akan mengalami penderitaan. Mereka terlanjur bangga dengan-Nya yang begitu ‘powerful’ dan berharap Yesus akan membebaskan mereka dari penderitaan, bukan malah Yesus yang menderita.

Iman Kristiani yang kita hidupi adalah Karunia Ilahi yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?  Dapatkan iman itu menyelamatkan dia?  Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak 2:14.26).

Doa:  Tuhan Yesus yang baik, beri kami kesempatan untuk bersaksi tanpa ragu dan malu, agar kelak dapat bersama-Mu dalam Kemuliaan Abadi. Amin.

Rosita Djuwana/Tim KKS Paroki Kelapa Gading.