June 26, 2020 Renungan Harian N Admin Share Articles
Jumat, 26 Juni 2020

Jumat, 26 Juni 2020
Pekan Biasa XII.
Kitab Kedua Raja-Raja 25:1-12.
Matius 8:1-4.

Seorang penderita covid 19 yang telah sembuh mengatakan bahwa pada saat dirinya divonis covid 19, tiba-tiba hidupnya menjadi berubah menjadi sangat tidak nyaman. Bukan hanya karena covid 19 yang dideritanya, tetapi karena ia merasa dikucilkan baik oleh keluarganya sendiri maupun oleh orang-orang sekitarnya. Kemudian dia teringat akan penderita kusta yang dibacanya dalam Kitab Suci, yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Penyakit kusta di jaman dahulu memang sulit disembuhkan karena belum ada obatnya sehingga setiap orang yang menderita kusta otomatis akan dikucilkan dari masyarakat. Saat ini penderita covid 19 pun dikucilkan dari masyarakat bahkan ketika sudah meninggal dunia pun, jenasahnya masih dianggap momok yang sangat menakutkan. Memang sangat menyakitkan ketika sedang sakit yang sebenarnya justru membutuhan uluran kasih dari orang-orang terdekat, tetapi justru semua menjauh karena takut tertular dengan penyakit yang menakutkan ini. Akhirnya kita bertanya, masih adakah orang Samaria yang baik hati, yang memberikan kasihnya kepada sesama yang tidak dikenalnya itu?.

Pada Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta, “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir’. Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya” (Mat 8:3). Ternyata Yesus menerima kita apa adanya, saat sakit kusta, saat menderita covid 19, saat sedang dirundung masalah, Ia selalu hadir menemani. Manusia selalu penuh dengan pertimbangan, akan mengasihi sesamanya jika tidak merugikannya. Kusta dan Covid 19 adalah symbol dari segala penderitaan dan aib manusia, yang dapat menular dan membuat orang menjauh darinya. Untuk itu berharaplah kepada Yesus saja, yang siap setiap saat mentahirkan masalah yang menghimpit hidup kita. Tetapi hidup akan mengerikan jika tidak sesuai dengan kehendak Allah. Yerusalem, Tanah Terjanji, akhirnya dihancurkan oleh raja Babel, Nebukadnezar dengan persetujuan Allah tentunya, karena bangsa itu telah menimbulkan murka Allah. Bangsa yang awalnya terberkati, menjadi seperti penderita kusta, yang dikucilkan bangsa-bangsa lain, “…datanglah Nebukadnezar, raja Babel, dengan segala tentaranya menyerang Yerusalem” (2raj 25:1).

Ketika kita berdosa, kita layaknya seperti orang yang sedang menderita sakit yang perlu pertolongan Allah. Penderita kusta dan penderita covid 19, perlu dengan rendah hati berdoa dan memohon Kerahiman-Nya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Mat 8:2). Kemudian setelah disembuhkan, kita harus membalas kebaikan-Nya, “…tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka” (Mat 8:4). Kita harus menjadi alat Tuhan untuk berbagi Kasih-Nya kepada sesama.

Doa: Tuhan Yesus, membalas kebaikan-Mu adalah dengan cara berbagi, jadikanlah kami alat-Mu untuk berbagi kasih-Mu kepada sesama. Amin.

Rosita Djuwana/Tim KKS Paroki Kelapa Gading.