November 8, 2019 Renungan Harian sh Share Articles
Jumat, 8 November 2019

BACAAN LITURGI, JUMAT 8 NOV. 2019. PEKAN BIASA XXXI

Bacaan 1: Rm. 15:14-21          Bacaan Injil: Luk. 16:1-8

Perumpamaan yang Yesus berikan hari ini tentang bendahara yang tidak jujur agak berbau kontroversial. Dalam kisah itu seakan Tuhan memuji ketidakjujuran si bendahara. Si bendahara melakukan manipulasi angka supaya setelah dia dipecat oleh tuannya, ia bisa mendapatkan keuntungan dari selisih utang yang ia catat.

Tentu maksud Yesus bukan untuk menganjurkan kita melakukan korupsi. Ajaran Yesus terletak pada bagian akhir: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon agar kita memperoleh keselamatan abadi di surga”.

Uang atau harta benda duniawi, kalau kita tidak hati-hati, bisa membuat kita jatuh ke dalam dosa dan menjauh dari Tuhan. Banyak fakta membuktikan bahwa ketika kita punya uang banyak, kita tergoda untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Akan tetapi, uang atau harta benda duniawi pada hakikatnya adalah netral, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Justru kita diajarkan untuk menggunakan uang tersebut agar kita boleh masuk dalam Kerajaan Surga. Caranya adalah dengan melakukan karya kasih untuk menolong sesama yang menderita.

Sering dikatakan bahwa pencuri itu cenderung lebih cerdik dari polisi. Mungkin salah satu alasannya adalah kebutuhan bertahan hidup, dalam hal ini tidak tertangkap, yang memaksa mereka mencari segala macam jalan yang paling aman. Kiranya demikianlah situasi yang digambarkan dalam kisah bendahara yang cerdik. Ia harus bertahan hidup, sehingga muncullah ide cerdiknya.

“Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya” (Luk. 16:8). Yesus mengkonfrontasikan anak-anak dunia dengan anak-anak terang, mengisyaratkan sebuah tantangan bagaimana anak-anak terang dapat membawa terang itu kepada dunia.

Rasul Paulus menegaskan tugas pelayanan kita kepada dunia, yaitu pewartaan injil. Di dunia yang sering dikatakan semakin sekuler dan materialistis, kita bertanya tentang bagaimana menemukan cara-cara kreatif untuk menyampaikan kabar sukacita ke hati manusia. Tetapi, sebelum itu, jauh lebih penting bertanya kepada diri kita, apa yang menggerakkan diri kita untuk melayani dan mewartakan injil? Apakah pelayanan itu bernilai situasi hidup-mati kita, atau dengan kata lain sesuatu yang maha penting, sebagaimana rasul Paulus dan bendahara yang cerdik? Atau karena ingin ikut terlibat saja?

 

Lucy Ambarwati/ Tim KKS St Yakobus