February 20, 2020 Renungan Harian N Admin Share Articles
Kamis, 20 Februari 2020

Kamis, 20 Februari 2020
Pekan Biasa VI.
Yakobus 2:1-9 ; Markus 8:27-33.

Kebahagiaan dan penderitaan  adalah dua keadaan di dalam kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dan selalu ada dalam diri kita, seperti dua  bagian uang koin dengan gambar yang berbeda tetapi adalah sebuah koin.  Kita tidak dapat lari dari penderitaan, istilah kerennya, ‘carry the cross’.  Di dalam penderitaan itu kita akan mengalami kebahagiaan,  dimana terdapat ‘berkat’ disitu terdapat pula ‘salib’.   Petrus dan para murid  belum memahami misi Yesus datang ke dunia.  Mereka hanya merasa bangga karena menjadi orang pilihan Yesus untuk menjadi murid-Nya.   Yesus sangat terkenal dan dicari-cari orang karena kehebatan-Nya melakukan mukjizat-mukjzat yang spektakuler, orang mati dihidupkan, orang buta dapat melihat, orang kusta menjadi tahir.  Mereka  tidak mengerti bahwa bersama Yesus yang menakjubkan itu harus menderita dan memanggul salib kehidupan.

Injil hari ini,  Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?“… “Tetapi apa katamu, siapakah Aku Ini?”  “Maka jawab Petrus: (“Engkau adalah Mesias”)” (Mrk 8:27-29).  Kemudian Yesus memberitahukan secara terus terang bagaimana akhir hidupnya, “…bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk 8:31).  Petrus hendak menolong Yesus menghindari penderitaan-Nya, tetapi justru menjadi batu sandungan karena menolak penderitaan salib, sehingga Yesus memarahinya, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33).  Jalan Mesias adalah jalan salib yang mengawali dan mengantar Yesus kepada Kemuliaan Kebangkitan.  Salib dan Berkat selalu berdampingan.

Kita yang telah menerima Yesus sebagai Mesias haruslah menjalankan  hidup seperti-Nya, penuh kasih kepada manusia tanpa membeda-bedakannya.   Di hadapan-Nya semua manusia sama dan sederajat.  Menilai dan membedakan orang dengan memandang ras, warna kulit dan status sosial ternyata telah terjadi sejak jaman dahulu.  Ini dipandang oleh Rasul Yakobus sebagai tindakan kejahatan, sehingga ia memberikan nasehat, “Dengarkan lah, hai saudara-saudara yang kukasihi!  Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” (Yak 2:5).

Kesenjangan ekonomi dan sosial  seringkali menjadi sorotan di dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan di dalam kehidupan gereja.  ‘Kasih’ ternyata dapat mempersatukan si kaya dan si miskin,  “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Yak 2:8), seperti Yesus yang telah lebih dahulu mengasihi kita hingga wafat di salib.

Doa: Yesus yang baik, berilah kami hikmat agar dapat mengasihi sesama seperti Engkau telah mengasihi kami. Amin.

Rosita Djuwana/Tim KKS Paroki Kelapa Gading.