November 7, 2019 Renungan Harian sh Share Articles
Kamis, 7 November 2019

BACAAN LITURGI, KAMIS 7 NOV. 2019. PEKAN BIASA XXXI

Bacaan 1: Rm. 14:7-12            Bacaan Injil: Luk. 15:1-10

Tentu, dengan kalkulasi manusia, tidaklah masuk akal meninggalkan 9 domba yang baik dan penurut untuk mencari domba 1 domba nakal yang memisahkan diri dari kawanannya. Kalau dalam satu kelas ada 30 siswa, dan ada satu siswa yang kelihatan lain daripada yang lain karena sikapnya yang memberontak, malas, dan nilai-nilainya jeblok terus, hal ini kerap kali membuat guru cepat naik darah dan marah kepada satu anak tersebut. Biasanya si anak sering dihukum dengan disuruh berdiri di luar kelas atau berdiri di depan kelas.

Perumpamaan tentang gembala yang mencari domba yang hilang, menjadi bahan refleksi buat kita. Ada dua hal yang bisa kita refleksikan. Pertama, tentang sikap kita terhadap orang lain di sekitar kita yang kita tahu berbuat dosa atau kesalahan. Apakah kita cenderung menghukum, menjauhi dan bahkan memperburuk situasi dengan menjelek-jelekkan? Ataukah kita berani datang mendekat dan penuh cinta menggandeng tangannya, membesarkan hatinya sehingga ia bisa kembali ke jalan yang benar.

Kedua, tentang kebahagiaan Tuhan  melihat manusia bertobat. Betapa bahagianya Allah kita yang dengan tangan terentang selalu menerima kita walaupun kadangkala kita tersesat atau menyesatkan diri kita secara sengaja. Allah selalu menginginkan kita kembali kepada-Nya.

Dalam bacaan hari ini, kata ‘bersungut-sungut’ dipertentangkan dengan ‘bersukacita’. Orang Farisi bersungut-sungut karena Yesus telah merendahkan diri-Nya; sejajar dengan orang berdosa dan bergaul dengan mereka. Dalam benak mereka, kalau Yesus itu seorang rabi maka seharusnya tidak bergaul dengan orang-orang semacam itu. Namun, sebaliknya, Allah bersukacita atas pertobatan orang-orang berdosa. Pertobatan itu sendiri hanya terjadi kalau ‘para pendosa’ itu ‘disentuh’ oleh penerimaan dan pengertian.

Orang salah itu selalu dijauhi, dikucilkan dan dipandang sebagai ‘sampah masyarakat’. Sikap dan cap semacam ini akan semakin memperparah hidup mereka karena mereka ‘terpenjara’ oleh cara berpikir yang membelenggu mereka. Yesus datang ke dunia untuk mencari domba yang tersesat (bdk. Luk. 15:2-8) dan menyelamatkan mereka yang hilang. Ia memulihkan orang yang sakit dan memanggil orang berdosa supaya bertobat (bdk. Luk. 5:32).

Kita harus bertobat karena kita tidak lebih baik dari mereka dan pertobatan itu pun merupakan bentuk pertanggungjawaban kita dihadapan Allah.

 

Lucy Ambarwati/ Tim KKS St Yakobus