November 6, 2019 Renungan Harian sh Share Articles
Rabu, 6 November 2019

BACAAN LITURGI, RABU 6 NOV 2019. PEKAN BIASA XXXI

Bacaan 1: Rm. 13:8-10            Bacaan Injil: Luk. 14:25-33

Mengapa kita menjadi Katolik? Setiap orang punya motivasi dan kisahnya sendiri. Ada yang karena iman orangtuanya alias dibaptis sejak bayi, ada yang karena ketertarikan pada ajaran iman Katolik, ada yang karena perkawinan, dan sangat mungkin juga ada yang karena ikut-ikutan.

Hari ini kedua bacaan mengajak kita untuk merenungkan kembali motivasi dan tujuan kita menjadi pengikut Kristus. Dalam bacaan injil, Tuhan Yesus menegaskan apa yang menjadi pusat dari jalan kemuridan, yaitu mengikuti jejak-Nya. Mengikuti jejak Kristus berarti menghidupi sikap lepas bebas dan setia memikul salib. Dalam bacaan pertama, rasul Paulus menambahkan kasih sebagai roh utama hidup kita. Maka, apa pun yang menjadi motivasi atau alasan di balik baptisan yang kita terima, kita diundang untuk berkembang dan bertumbuh menjadi murid Kristus yang semakin baik.

Apa yang dikatakan Tuhan Yesus dan refleksi rasul Paulus menjadi tantangan bagi kita: Apakah kita berani menjadi murid sejati penuh kasih yang lepas bebas dan setia? Mungkin dahulu ada yang menjadi murid Yesus karena ikut suami atau istri, tetapi Yesus mengajak kita tidak berhenti pada apa yang ada di masa lalu, untuk terus berjalan mengikuti jejak-Nya, semakin dekat dan semakin setia supaya hidup kita berbuah limpah.

Ada kisah tentang seorang frater, yang berniat untuk menjadi imam dengan masuk seminari. Selulus SMU, dia masuk seminari, namun hanya kuat bertahan 7 hari di asrama lalu ia mengundurkan diri. Tentu anda tertarik untuk bertanya, mengapa? Ternyata ia tidak betah tinggal di seminari karena ia selalu rindu dengan mantan kekasihnya yang baru ia putuskan seminggu sebelum masuk seminari. Ia selalu bernyanyi: “Ada bayanganmu di mataku, dan senyummu membuatku rindu… dst”.

Ini hanyalah salah satu contoh cerita nyata yang ingin menggambarkan bahwa untuk mengikuti Tuhan secara total sebagai murid-murid-Nya, harus berani meninggalkan apa yang paling dicintai dalam hidup. Hal ini bukan saja berlaku untuk jalan panggilan khusus menjadi imam atau biarawan/wati; namun juga jalan hidup sebagai awam.

Spiritualitas “lepas bebas” harus menjadi milik semua orang. Kita memandang segala sesuatu yang ada di dunia ini sebagai sesuatu yang menghantar kita pada penyucian diri dan mendekat kepada Tuhan. Harta duniawi atau pribadi-pribadi yang kita sayang tidak akan kita bawa ketika menghadap Tuhan nantinya. Semua harus kita lepaskan. Maka, barang-barang dunia dan ikatan-ikatan relasi itu tidak boleh lebih tinggi posisinya dari relasi kita dengan Tuhan. Persoalannya adalah tubuh kita secara fisik ini mudah terikat pada hal-hal duniawi, ketimbang hal-hal rohani.

 

Lucy Ambarwati/ Tim KKS St Yakobus