June 27, 2020 Renungan Harian N Admin Share Articles
Sabtu, 27 Juni 2020

Sabtu, 27 Juni 2020
Pekan Biasa XII.
Kitab Ratapan 2:2.10-14.18-19.
Matius 8:5-17.

Covid 19 yang tiba-tiba saja datangnya, membuat dunia menangis dan membawa banyak kesedihan kepada manusia hampir di seluruh belahan dunia. Ketika usaha-usaha, toko-toko dan pusat perbelanjaan mulai dibuka kembali walaupun tetap harus mengikuti protokol kesehatan, rasa-rasanya roda kehidupan seperti mengalami perputaran kembali. Masih diberlakukannya PSBB transisi paling tidak memberikan secerca harapan akan masa depan yang saat ini masih terasa gelap dan serba tidak pasti.

Yerusalem dihancurkan, “Tanpa belas kasihan Tuhan memusnahkan segala ladang Yakub. Ia memusnahkan dalam amarah-Nya benteng-benteng puteri Yehuda. Ia mencampakkan ke bumi dan mencemarkan kerajaan dan pemimpin-pemimpinnya” ( Rat 2:2). Penderitaan orang Israel sungguh menyedihkan. Hidup tidak ada harapan, masa depan suram, Tuhan menjadi seperti seorang seteru yang merusak tanpa belas kasih. Bagaimana meredakan murka Tuhan yang begitu mengerikan terhadap orang Israel? Jelaslah Tuhan murka kepada Bangsa Pilihan-Nya ini karena telah melakukan hal yang jahat di mata-Nya, padahal telah diperingatkan untuk bertobat. Akhirnya bangsa Israel yang telah mengalami kehancuran mulai memohon ampun kepada-Nya, “Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai puteri Sion, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; ..curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!” (Rat 2:18-19).

Membayangkan apa yang telah dialami Bangsa Israel dahulu kala, alangkah baiknya sekarang kita merenung, apakah kita telah berbuat hal-hal yang jahat pula sehingga membuat Tuhan murka dan membiarkan covid 19 merajalela menyebabkan manusia terpuruk? Pertobatan Bangsa Israel yang berteriak kepada Allah, hendaknya menjadi pertobatan kita pula agar Tuhan berkenan meredakan covid 19 ini. Seperti dalam Injil hari ini, kita patut bercerrmin kepada iman perwira yang dengan sangat rendah hati memohon kepada Yesus agar menyembuhkan hambanya yang sakit lumpuh, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Yesus memuji sang perwira, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Hamba sang perwira yang lumpuh, adalah kita semua saat ini yang mengalami kelumpuhan karena harus ‘stay at home’, tidak dapat beraktifitas seperti biasanya, bahkan beribadat pun harus live streaming. Hamba yang lumpuh telah disembuhkan berkat iman sang perwira yang teguh percaya kepada Yesus. Bagaimana dengan iman kita? Mari kita andalkan Yesus agar dapat melepaskan dunia dan kita semua dari kelumpuhan jasmani dan rohani.

Doa: Yesus yang baik, ampunilah dosa kami yang telah tidak setia kepada-Mu, beri kesempatan kepada kami untuk menjadi alat-Mu untuk Kemuliaan-Mu.

Rosita Djuwana/Tim KKS Paroki Kelapa Gading.