December 3, 2019 Renungan Harian N Admin Share Articles
Selasa, 3 Desember 2019

Selasa, 3 Desember 2019
PESTA ST. FRANSISKUS XAVERIUS
1Kor. 9:16-19,22-23Mzm. 117:1,2Mrk. 16:15-20.

Hari ini gereja memperingati seorang misionaris  terbesar di Asia setelah St.Paulus yaitu St. Fransiskus Xaverius.  Ia sangat dikenal terutama di India, Jepang, Indonesia, Malaysia,Portugis dan Cina, berkat karyanya dalam mewartakan injil dan membangun kerajaan Allah di negara yang ia kunjungi. “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tapi kehilangan nyawanya?”, suatu pertanyaan penuh makna yang mempengaruhi sikap dan memberi inspirasi terhadap jalan hidup Fransiskus Xaverius muda di awal karyanya.  Saya mencoba merenungkan makna kalimat bentuk pertanyaan diatas bagi kehidupan saat ini?

Dewasa ini, berkat perkembangan teknologi, dalam beberapa detik saja dunia sudah bisa ada dalam genggaman. Internet, Game online, chatting dan banyak aplikasi lainnya semakin memudahkan orang untuk menikmati dunia ini, namun tanpa disadari juga bisa menjerumuskan orang kepada hal-hal yang kurang baik. Sebut saja handphoneyang bisa mendekatkan yang jauh tapi sekaligus bisa pula menjauhkan yang dekat. Manusia dibuat kecanduan berkat teknologi hingga tidak peduli waktu bahkan sesamanya. Kecanduan teknologi telah menyebabkan manusia seperti sudah tidak tahu batas, tidak ada lagi batas-batas yang memproteksi kehidupan seseorang seperti juga dunia yang tidak memiliki batas.

Jika melihat kisah penciptaan, Allah saja tahu batas karena pada hari ketujuh Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya (Kej.2:3). Adam dan Hawa tidak tahu batas, karena walaupun sudah diperingati, mereka ingin seperti Allah (Kej.3) yang pada akhirnya membawa mereka jatuh dalam dosa.

Refleksi sederhana dari kitab Kejadian diatas menggambarkan betapa berbahayanya jika manusia tidak tahu batas, sama artinya dengan dosa yang sudah di depan mata. Manusia akan kehilangan ‘nyawanya’, kehilangan jiwanya. Keterikatan duniawi akan hal-hal jasmani telah melunturkan kewajiban untuk menjaga rohani atau jiwanya termasuk menjaga relasi dengan Allah.  Padahal disanalah tempat Allah bersemayam di dalam jiwa kita. Pertumbuhan rohani menjadi terhambat. Kelas-kelas pengajaran kitab suci ataupun pendalaman iman lingkungan tidak lagi menjadi tempat menarik bagi sebagian orang terutama kaum muda karena distorsi keimanan sebagai akibat kemajuan teknologi tidak dapat dihindari.

Inilah yang menjadi bagian tugas perutusan kita untuk menyadarkan kembali mereka akan perlunya keseimbangan antara jasmani dan rohani, kesadaran akan ‘tahu batas’ serta menempatkan kembali kebutuhan-kebutuhan dasar hidup manusia pada tempatnya, agar jangan sampai terlena pada kenikmatan semu dunia dan pada akhirnya kehilangan ‘nyawa’.

Tuhan, sudilah menerangi hati kami agar menjadi orang yang tahu batas dalam segala hal. Amin.

Djoli Nizar / Tim KKS