November 5, 2019 Renungan Harian sh Share Articles
Selasa, 5 November 2019

BACAAN LITURGI, SELASA 5 NOV. 2019. PEKAN BIASA XXXI

Bacaan 1: Rm. 12:5-16a          Bacaan Injil: Luk. 14:15-24

Tidak semua orang mengerti apa karunia yang diberikan Allah kepadanya. Boleh jadi, sampai orang menutup mata, ada banyak karunia yang belum disadari, digali, dan dikembangkan. Maka, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan “apa yang sudah dilakukan dengan karunia yang diberikan Allah?” Setiap orang mesti terlebih dahulu sadar akan karunia yang dimiliki.

Yesus menceritakan kisah orang yang abai dengan karunianya. Karunia yang dimaksud adalah “status” orang terpilih untuk diundang ke perjamuan. Para undangan ini malah asyik dengan diri sendiri. Sebagai seorang kristiani, lepas dari semua karunia khusus dan personal yang dimiliki masing-masing orang, kita semua diberi karunia dasar: orang-orang terpilih yang diberkati dan dikasihi Allah, para undangan istimewa Allah. Tetapi rasul Paulus melontarkan pertanyaan, untuk apa dan siapa karunia itu? Seberapa penting maknanya bagi kita?

Karunia mengandaikan tanggung jawab. Maka, merujuk kepada refleksi rasul Paulus, kita dipanggil untuk senantiasa membuka diri dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari kesatuan yang mesti saling menopang dengan orang lain. Kasih membuka gerbang sehingga aneka karunia dapat saling berjumpa dan menyempurnakan kemanusiaan.

Injil hari ini bercerita tentang seorang tuan yang mengadakan perjamuan dan mengundang semua orang untuk datang, namun banyak orang yang diundang memberikan macam-macam alasan dan tidak mau hadir dalam pesta perjamuan si tuan. Lalu tuan itu marah dan meminta orang-orang miskin dan cacat untuk hadir dan tidak mengizinkan orang-orang yang berdalih itu untuk masuk ke dalam pestanya.

Ini adalah suatu gambaran yang jelas tentang Kerajaan Surga. Bapa menghendaki semua orang masuk dalam pesta perjamuan abadi-Nya. Tamu-tamu undangan yang berdalih itu menggambarkan manusia yang sangat sering menolak undangan Tuhan karena memilih perkara lain yang sepintas lalu secara duniawi sangat penting dan juga menjanjikan kebahagiaan.

Sangatlah benar bahwa di dunia ini kita memiliki banyak perkara yang harus kita selesaikan. Namun, jangan sampai segala urusan duniawi itu justru menjauhkan kita dari Tuhan. Ada banyak orang yang tidak sempat lagi datang Misa mingguan, pertemuan lingkungan, bahkan tidak sempat berdoa pribadi, dengan alasan sibuk ini atau itu. Namun, kita bisa melihat ada orang-orang yang di tengah-tengah segala kesibukannya bisa tetap aktif di paroki, lingkungan atau komunitas tertentu, melayani Tuhan dan sesama. Perkara duniawi tidak boleh menjauhkan kita dari Tuhan, sedapat mungkin justru harus kita abdikan untuk semakin menyucikan diri kita.

 

Lucy Ambarwati/ Tim KKS St Yakobus