Headline News Share Articles

Requiescat in Pace Bpk. Aloysius Aluinanto Sandjaja (67 th)

REQUIESCAT IN PACE
Aloysius Aluinanto Sandjaja (67th)
Sabtu 4 April 2020.

Seorang ayah yang ke-2 putranya tadinya disiapkannya mewarisi usaha konstruksi baja, malah masuk biara & menjadi pastor di USA & Prancis.

Berpulang, aku berpulang
Tenang dan damai, aku berpulang

Tidaklah jauh, lewati pintu terbuka
Tugas telah usai, tiada cemas tersisa

Bunda menanti, ayah pun menunggu
Banyaklah wajah yang kukenal,
dari masa lalu

Ketakutan lenyap, kesakitan hilang
Rintangan musnah, perjalanan usai

Bintang fajar terangi jalanku
Mimpi buruk hilang sudah
Bayang-bayang telah berlalu
Terang kini tiba
Di hidup abadilah aku

Tiada jeda, tiada akhir
Hanya ada kehidupan
Tersadar penuh, dengan senyuman
Untuk selamanya

Berpulang, aku berpulang
Bayang bayang telah berlalu
Terang kini tiba
Hidup abadi kumulai
Aku kini berpulang

“Saat seseorang berpulang, segumpal awan menjelma menjadi malaikat,
dan melayang ke surga meminta Tuhan untuk meletakkan
setangkai bunga di atas sebuah bantal
Sang burungpun menyampaikan pesan itu ke bumi dan melantunkan seuntai doa
yang menyebabkan hujan menangis

Mereka memang harus pergi, tapi mereka tidak benar-benar pergi
Roh mereka di atas sanalah yang menidurkan matahari, membangunkan rerumputan dan memutar bola dunia
Kadang kau dapat melihat mereka menari di dalam awan di siang hari
di saat mereka seharusnya nyenyak tertidur

Mereka melukis keindahan pelangi dan juga temaram matahari senja
dan membangunkan ombak di lautan
mereka melambungkan bintang jatuh dan mendengarkan semua harapan,
nyanyian mereka merdu dalam hembusan angin, berbisik pada kita :
“Jangan terlalu sedih. Pemandangan di sini indah dan aku baik-baik saja”

———-

“When somebody dies, a cloud turns into an angel,
and flies up to tell God to put another flower on a pillow.
A bird gives the message back to the world and sings a silent prayer
that makes the rain cry…..

People dissappear, but they never really go away.
The spirits up there put the sun to bed, wake up grass, and
spin the earth in dizzy circles.
Sometimes you can see them dancing in a cloud during the day-time,
when they’re supposed to be sleeping

They paint the rainbows and also the sunsets,
and make waves splash and tug at the tide.
They toss shooting stars and listen to wishes,
and they sing wind-songs, they whisper to us:
“Don’t miss me too much. The view is nice and I’m doing just fine”

======
KILAS BALIK
Suatu malam di pengujung 2004, Edwin Bernard Timothy tak sengaja menonton film “The Song of Bernadette” di layar kaca.

Keutamaan sikap Santa Bernadet yang mengemuka dalam film hitam putih produksi tahun ’50 -an itu, menggugah nurani pemuda yang tengah studi S2 bidang sistem informasi geografi di Universitas Buffalo, Negara Bagian New York, Amerika Serikat ini.

“Ada sesuatu yang indah, sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya saat ditemui di kediaman orangtuanya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kisah Santa Bernadet yang membuat Edwin menggeliat hidup rohaninya. “Sejak itu, setiap hari aku berdoa rosario dan ikut Misa,” kenangnya.

Selanjutnya, pria kelahiran 25 Januari 1982 ini mendulang pengetahuan agama dari beragam buku agama, hal yang sebelumnya tak terlintas di benaknya. Hingga suatu hari, ia membaca buku tentang hidup bakti di Gereja Katolik. Panggilan membiara pun mulai menggelitik damai. “Saya setuju ‘klik’, saya tertarik menjadi biarawan,” katanya.

Enam bulan berselang, seusai studi S2, Edwin memilih ordo. “Saya masuk Ordo Pengkhotbah (Dominikan),” katanya. Seiring bergulirnya waktu, panggilan yang ditelusuri Edwin bermuara pada 24 Mei 2013, tatkala Mgr Christopher Cardone OP menahbiskannya menjadi imam Dominikan di Gereja St Dominic, Washington DC, Amerika Serikat.

Seperti di Surga
Ketika pertama kali Edwin menjejakkan kaki di Biara Suster-Suster Dominikan di Buffalo New York State, kekaguman menyergapnya. “Suster suster Dominikan sedang mendaraskan Mazmur dan lagu-lagu Gregorian dengan begitu indah. Saya serasa berada di surga, ”ujar Edwin sembari melepaskan tawa.

Namun, seulas kekhawatiran tak sanggup berkhotbah mengganjalnya. “Lalu, saya memohon kepada Tuhan, jikalau memang Dia memanggil saya, tolonglah saya.” Setelah itu, batin Edwin terasa lapang. Juli 2006, Edwin masuk biara. “Saya bersyukur, orangtua menerima keputusan saya.”

Dengan keteguhan hati, Edwin meniti titian imamat. “Bagi saya, panggilan ini merupakan life time commitment. Meski sejak awal saya tak pernah ragu,” ucap alumnus SMP dan SMA Kanisius Menteng, Jakarta Pusat ini.

Ternyata, hidup membiara juga mempesona sang kakak, Cornelius Leo Adrianus. Cornelius, yang sebelumnya selalu tinggal satu rumah dengan Edwin di Negeri Paman Sam, kerap ikut membaca buku-buku rohani milik adiknya. Ia juga mengikuti siaran-siaran rohani di saluran televisi Katolik setempat.

Meski ia tengah studi S3 bidang geography information system di kampus yang sama dengan kampus adiknya, niatnya masuk biara tak terbendung. “Saya mulai merasakan ada konflik antara hidup profesional saya dengan hidup rohani,” tandas Cornelius yang sudah menjadi dosen di kampusnya.

Setahun setelah Edwin masuk Biara Dominikan, Cornelius masuk Ordo Community of St John(CSJ). Di biara, Cornelius mendapati irama hidupnya sungguh berbeda dengan sebelumnya. “Tapi, saya bahagia karena hidup lebih realistis. Dulu, semua yang saya butuhkan bisa saya beli. Sekarang, semua yang saya butuhkan harus saya kerjakan sendiri,” ucap pria yang saat ini menjadi frater CSJ di Perancis.

Pria kelahiran 30 Juli 1980 ini mengibaratkan panggilan hidupnya sebagai mutiara. “Tuhan memberikan mutiara kepada kami, dan untuk itu, kami harus meninggalkan semua yang kami miliki.”

Semula, orangtua Cornelius dan Edwin, Aloysius Sanjaya dan Esther Widyawati, tak pernah menangkap semburat tanda bahwa kedua putranya bakal masuk biara. Semasa di Jakarta, mereka enggan berhimpun dalam Putra Altar atau Orang Muda Katolik (OMK). “Hidup rohani kami biasa-biasa saja, hanya masuk gereja setiap Minggu,” tutur Esther.

Namun, sejak kecil, perilaku Cornelius dan Edwin cenderung tak merepotkan orangtua. Mereka tak pernah bertengkar atau iri hati. Nyaris tak ada tangis anak-anak di rumah keluarga Sanjaya. “Dulu, saya merasa semua itu wajar saja. Tetapi, belakangan saya tersadar bahwa mereka memang spesial,” kenang Esther.

Sejak awal perkawinan, 1979, pasangan ini merintis usaha konstruksi baja. “Kami bekerja keras mengembangkan usaha demi anak-anak,” kata Sanjaya.

Selepas SMA, mereka mengirim Cornelius dan Edwin ke Amerika Serikat guna menuntut ilmu agar kelak bisa meneruskan usaha. Ternyata, jalan hidup bertutur lain…. “Rencana saya dengan rencana Allah berbeda. Tapi, saya meyakini, rencana Allah pasti yang terbaik,” tegasnya.

Berbagai komentar pun menyinggahi telinga Sanjaya dan Esther karena Cornelius dan Edwin tak mungkin meneruskan usaha. Tak sedikit yang menganggap realita ini musibah, terlebih karena garis keturunan mereka tak berlanjut. “Tetapi, kami menerimanya sebagai rahmat Tuhan yang luar biasa,” tandas Sanjaya.

Sejak kedua putranya masuk biara, kehidupan iman pasangan ini bertumbuh. Mereka aktif dalam pelayanan di Gereja, khususnya di Paroki St Yakobus Kelapa Gading.

Sementara, dalam mengepakkan sayap usaha, pandangan mereka bergeser. “Ada hak orang-orang lain pada rezeki yang kami terima,” tutur pasangan yang peduli pada pendidikan anak-anak tak berpunya ini. Di usia menyongsong senja, pasangan ini tetap giat berkarya.

Meski tak bisa mewariskan bisnisnya kepada Cornelius dan Edwin, tak ada selumbar pun sesal melekat di hati mereka. “Kami yakin, Tuhan yang telah memulainya dengan baik, akan menyelesaikannya dengan baik pula,” tukas Sanjaya.

source : Lingkungan Michael 3, Kelapa Gading